Jumlah Guru Besar UII Kembali Bertambah

Jumlah Guru Besar di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) kembali bertambah. Kali ini gelar Guru Besar dalam bidang ilmu Hukum Pidana berhasil diraih oleh Dr. Rusli Muhammad, SH., MH., dan menjadikannya sebagai Guru Besar yang ke-15 di lingkungan UII.

Pengangkatan Dr. Rusli Muhammad sebagai Guru Besar ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Nomor 2350/A2.3/KP/2017 oleh Koordinator Kopertis Wilayah V, Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA., kepada Plt. Rektor UII, Dr. Ing. Ilya Fajar Maharika, MA., IAI., Senin 13 Februari 2017, di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito UII.

Turut hadir dan menyaksikan dalam penyerahan surat keputusan ini Ketua Yayasan Badan Wakaf UII, Dr. Ir. Luthfi Hasan, MS., segenap Dekan dan Kaprodi di lingkungan UII. Juga tampak hadir Guru Besar Hukum Tata Negara UII, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., SH. SU.

Disampaikan Dr. Bambang Supriyadi dalam sambutannya, Dr. Rusli Muhammad merupakan Guru Besar ke-49 di lingkungan Kopertis Wilayah V. Akan tetapi total Guru Besar di Kopertis Wilayah V atau yang didanai oleh Kopertis Wilayah V menurutnya sampai saat ini ada 51 orang. Guru Besar ini merupakan pindahan dari salah satu kampus negeri di Yogyakarta dan satu lagi pindahan dari Kopertis di Wilayah Jakarta.

Menurut Dr. Bambang Supriyadi, saat ini terdapat 34 tim Penilai Angka Kredit (PAK) yang ada di Kopertis Wilayah V, dan ini menurutnya guna memenuhi 17 bidang keahlihan yang sering muncul dan ada yang harus di evaluasi. Ia menuturkan untuk ke Guru Besar satu orang calon diperiksa oleh tiga orang Guru Besar dari tim PAK. Hal ini menurutnya untuk menghindari like and dislike, setiap calon Guru Besar benar-benar diperiksa sesuai keahlihannya.

Lebih lanjut Dr. Bambang Supriyadi menuturkan,  pengajuan Guru Besar untuk saat ini tidak boleh hanya menggunakan hard copy, tetapi semua usulan jurnal terutama yang disampaikan untuk kenaikan atau untuk dinilai. Semuanya harus bisa dilacak secra online, walupun online nya melalui repository dari perguruan tinggi tersebut.

Sementara disampaikan Dr. Luthfi Hasan, bertambahnya guru besar sudah pasti akan menambah potensi dan kekuatan universitas dan program studi tertentu yang memiliki guru besar. Oleh karena itu sebuah program studi akan kuat hasanah akademiknya kalau banyak Guru Besar-nya. Atas nama yayasan, Dr. Luthfi Hasan menyampaikan selamat atas capaian gelar akademik tertinggi ini.

Dr. Luthfi Hasan meminta untuk dilakukan penguatan komitmen, baik itu komitmen ke islaman dan juga komitmen ke UII. Indikator yang jelas adalah dengan makin banyaknya guru besar maka tentu akan makin banyak produk-produk yang dihasilkan. Sebab perguruan tinggi tanpa inovasi hanya menjalankan rutinitas saja. ”Saya berharap dengan kekuatan yang makin besar ini,  inovasi-inovasi baik itu dari universitas maupun dari fakultas akan nampak,” tuturnya.

Komitmen yang ke-dua disampaikan Dr. Luthfi Hasan adalah komitmen ke UII. Bukan hanya dalam hal pemegang amanah tetapi juga dalam hal menciptakan keunggulan-keunggulan akademik. Selain itu menurutnya seperti di tempat-tempat lain, Guru Besar itu menjadi teladan. Makin banyak Guru Besar-nya maka keteladananya juga makin banyak.

Dr. Ing. Ilya Fajar Maharika, dalam kesempatannya mengutip sambutan Wakil Presiden RI, Moh. Hatta ketika UII yang dikala itu bernama Sekolah Tinggi Islam (STI)  menyelenggarakan kuliah umum yang pertama. “Wujud STI  yang dibentuk oleh para ulama yang berpengetahuan agama dan berpendirian luas serta mempunyai semangat yang dinamis. Hanya ulama yang seperti itulah yang bisa menjadi pendidik yang sebenarnya. Di STI itu akan bertemu agama dan ilmu dalam suasana kerja bersama  untuk membimbing masyarakat ke dalam kesejahteraan”.

Menurut Dr. Ing. Ilya Fajar Maharika, pesan tersebut sangat dalam untuk mewujudkan madzhab akademik UII. Ada dimensi keagamaan, ada dimensi keilmuan, dan juga ada dimensi kemasyarkatan yang dibingkai menuju kesejahteraan. Ia berharap dengan bermunculannya para Guru Besar, UII bisa menjadi sebuah madzhab dalam pendidikan. ”Madzhab ini sebetulnya telah digariskan dengan sangat tegas oleh Moh. Hatta yang sekaligus juga menjadi kurator pendirian STI yang menjadi cikal bakal UII,” tandasnya.

Kejuaraan Nasional Taekwondo Tingkat Pelajar Diselenggarakan di UII

Kejuaraan Taekwondo Nasional Tingkat Pelajar memperebutkan trofi bergilir DKS Cup Kanisius Sengkan diselenggarakan  di GOR Universitas Islam Indonesia (UII) Jl. Kaliurang km 14,5 pada tanggal  11 – 12 Februari 2017. Acara ini didukung penuh UTI Pro dan UII sebagai tempat penyelenggaraan.

Kejuaraan ini diikuti 540 peserta, yang terdiri dari 2 kategori yaitu kyorugi (fight) dan poomse (jurus). Atlet juga berasal  dari luar Pulau Jawa seperti Biak, Maluku, Bengkulu, Bali, Lampung, dan Sumut. Atlit lainnya datang dari dojang di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan tentu saja tuan rumah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain trofi, dalam kejuaraan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 28 juta. “Uang pembinaan akan diberikan kepada atlet best player kyorugi dan poomsae di setiap kategori serta juara umum 1 sampai 5,” ujar Ketua Panitia Kejuaraan, Emmanuel Pinayungan (Emil).

Menurut Emil, sasaran kejuaraan ini adalah atlet-atlet taekwondo yang tergabung dalam dojang, baik kategori poomse maupun kyorugi yang berasal dari klub atau dojang yang ada di Indonesia, yang dibatasi usia, berat badan serta tingkatan yang telah ditentukan oleh panitia.

Beni Suranto, S.T., M.SoftEng, Direktur Pembinaan Bakat Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII)  mengaku sangat senang dan mendukung kejuaraan ini.  Karena selain bisa untuk ajang silaturahmi dan pertemuaan para alet Taekwondo seluruh Indonesia, juga sejalan dengan   komitmen UII untuk mencetak atlet-atlet muda yang berprestasi. “Apalagi peserta kejuaraan ini adalah pelajar, usia tepat untuk memupuk persaudaraan dan prestasi yang membanggakan,” jelas Beni.

UII Tandatangani MoU dengan 3 Sekolah Guna Perkuat Program SEAMEO

Setelah sekitar 1 bulan mengikuti program perkuliahan di Universitas Islam Indonesia (UII) dan juga kegiatan mengajar di beberapa sekolah di Yogyakarta, para mahasiswa peserta program The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) asal Thailand hari ini Kamis (9/2) secara resmi akan kembali ke Thailand guna melanjutkan pendidikan di kampus masing-masing. Acara perpisahan diselenggarakan di Gedung Rektorat UII Jalan Kaliurang dan dihadiri langsung oleh Plt. Rektor UII Dr. Ing. Ilya Fadjar Maharika, MA.,IAI.

Dalam acara perpisahan tersebut  diadakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Islam Indonesia dengan 3 Sekolah yang menjadi tempat mengajar bagi para mahasiswa peserta Program SEAMEO asal Thailand tersebut guna memperkuat kerjasama di masa selanjutnya terutama terkait dengan Program SEAMEO. Tiga sekolah tersebut yaitu SD Muhammadiyah Pakem,SMP 1 Pakem, dan SMP 4 Pakem.

MoU tersebut dimaksudkan guna memperkuat kerjasama antara UII dan ketiga sekolah sehingga esensi dari program SEAMEO dapat benar-benar dirasakan oleh peserta maupun oleh pihak UII dan sekolah. Dr. ilya juga menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas kerjasama yang telah terbangun dengan baik. Ia berharap pengalaman yang didapatkan oleh peserta program SEAMEO dapat menjadi bekal bagi mereka dalam berinteraksi dengan masyarakat internasional dan budaya yang beragam.

“Esensi program SEAMEO adalah bagaimana mahasiswa dapat menjadi bagian dari Global Community khususnya kawasan ASEAN.” Ujar Dr. Ilya.

Sebelum kembali ke Thailand, seluruh peserta mempresentasikan kegiatan yang telah dilakukan selama berada di Yogyakarta terutama ketika menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Materi yang diajarkan oleh para mahasiswa di sekolah-sekolah tersebut adalah pelajar Bahasa Inggris guna meningkatkan kemampuan para siswa dalam berbicara Bahasa Inggris.

 

Jurnal Hukum UII Kembali Raih Predikat Jurnal Hukum Terbaik di Indonesia

Prestasi akademik bergengsi kembali ditorehkan Universitas Islam Indonesia (UII) di level nasional. Kali ini, Jurnal Hukum UII, Ius Quia Iustum dinobatkan sebagai jurnal hukum terbaik secara nasional oleh Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia (RI). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Ketua MK RI, Dr. Anwar Usman, SH, MH di Hotel Grand Mercure Jakarta pada 8 Februari 2016. Prestasi ini melengkapi raihan prestasi jurnal hukum UII di tahun sebelumnya yang juga meraih predikat terbaik secara nasional. Jurnal hukum UII menjadi satu-satunya jurnal ilmiah dari perguruan tinggi swasta yang berhasil menduduki posisi tiga besar jurnal hukum terbaik. Pada kesempatan ini, MK RI menyeleksi 11 perguruan tinggi pengelola jurnal hukum terakreditasi nasional. Adapun sebagai runner up dan tempat ketiga masing-masing diraih oleh jurnal hukum dari perguruan tinggi negeri.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Pengarah Jurnal Hukum UII Ius Quia Iustum, Prof. Dr. Ni’matul Huda, S.H.,M.Hum kepada Humas UII, Jum’at (10/2) di kampus terpadu UII. Menurut Prof. Ni’matul Huda, capaian ini semakin menegaskan kredibilitas jurnal hukum UII sebagai sumber rujukan ilmu hukum bagi para pelajar dan praktisi hukum di tanah air. Di Indonesia sendiri, belum banyak jurnal hukum yang terakreditasi secara nasional.

Ditambahkan Prof. Dr. Ni’matul Huda, ada beberapa poin penting penilaian yang menjadi patokan MK RI untuk menentukan jurnal hukum terbaik. “Yang dilihat pertama tentu saja kedalaman substansi tulisan dalam jurnal hukum itu. Selain itu, juga dipertimbangkan seberapa banyak jurnal hukum itu mengkaji topik tentang konstitusi, putusan-putusan sidang MK RI, dan isu konstitusi kontemporer yang sedang hangat”, kata dosen yang baru meraih gelar guru besar itu. Prof. Ni’matul Huda berpendapat bahwa jurnal yang kredibel biasanya memiliki tingkat ketajaman analisis yang tinggi, originalitas ide, serta aspirasi wawasan yang luas.

“Semoga penghargaan tersebut dapat memotivasi pengelola jurnal hukum di Perguruan Tinggi lainnya. Idealnya jurnal di masing-masing fakultas juga minimal dapat terakreditasi sehingga mendapat apresiasi dari pihak luar”, katanya. Menurutnya, mengelola jurnal tidak hanya membutuhkan dedikasi dan keseriusan, namun juga keikhlasan.

Ratusan Penelitian Dipresentasikan Dalam 3rd IIFAS Conference

Para peserta the 3rd International Indonesian Forum on Asian Studies Conference (3rd IIFAS Conference) tampak antusias menghadiri sesi presentasi makalah yang diselenggarakan di Gedung Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FPSB UII), pada Kamis (9/2).

Lebih dari dua ratus judul yang ditulis oleh 472 peneliti dari dalam dan luar negeri dipresentasikan secara paralel dalam 5 sesi. Tercatat para peniliti di antaranya berasal dari Filipina, Jepang, India, Amerika Serikat, Australia, Taiwan, Belanda, Malaysia, Inggris, dan Myanmar.

Disampaikan Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat Arief Fahmi, MA., HRM., keterlibatan Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) UII sebagai penyelenggara bersama Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan IIFAS committee menunjukkannya sebagai institusi yang kredibel. Meskipun sebagai Program Studi baru di UII,  Program Studi Hubungan Internasional UII mempunyai prospek kerjasama ke depan yang bagus. Upaya yang dilakukan  juga menuai apresiasi dari berbagai pihak.

“Apresiasi di antaranya dari Direktur jenderal kelembagaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Totok Prasetyo, B.Eng. MT. yang secara resmi membuka penyelenggaraan konferensi pada hari seblumnya, Rabu (8/2), di Kampus UGM.

Arief Fahmi menuturkan, pemilihan sebagai penyelenggara tentunya harus memiliki kualifikasi. Dalam hal ini Prodi HI UII mempunyai keunggulan kajian di bidang Politik Asia Tenggara. Di samping itu, dosen-dosen yang terlibat di dalamnya juga menunjukkan kinerja yang optimal dalam menyelenggarakan acara tersebut. Ia berharap acara ini dapat memberikan kemanfaatan ke masayarakat yang lebih luas.

Lebih lanjut disampaikan Arief Fahmi, penyelenggaran konferensi 3rd IIFAS Conference bagi Prodi HI UII sangatlah penting, seperti kaitannya dalam hal pengajuan akreditasi. Menurutnya salah satu komponen penting dalam borang akreditasi adalah kerjasama yang harus dibangun bukan hanya dengan sesame Prodi, tetapi juga dengan pusat-pusat kajian.

Dijelaskan Arief Fahmi, langkah tersebut akan membawa efek domino bukan hanya dalam hal sisi penyelenggaraan seminar tetapi juga dapat mendukung dari sisi publikasi. Selain itu juga dari sisi networking dan pengembangan ilmu secara umum. ”Bisa ke kurikulum, juga bisa ke proses pembelajaran mahasiswa. Misalnya adanya internships, dosen tamu dan research bersama,” tandasnya.

Arief Fahmi menambahkan, penyelenggaraan 3rd IIFAS Conference bagi Prodi yang saat ini berada dibawah kepemimpinannya tersebut, lebih merupakan sebagai pintu masuk untuk mengembangkan sisi lain yang dibutuhkan dalam pengembangan program studi, yang sesuai atau disarankan dalam akreditasi.

UII Wakili Indonesia dalam Debat Bahasa Arab Internasional di Qatar

Prestasi mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) kembali bergaung di awal tahun 2017. Kali ini, tim mahasiswa UII ditunjuk untuk menjadi wakil Indonesia dalam even 4th International Universities Arabic Debating Championship (4th IUADC 2017) yang berlangsung di Doha, Qatar pada 7-12 April 2017. Penunjukan tim UII sendiri oleh panitia penyelenggara bukan tanpa alasan. Sebab dalam even bergengsi ini, panitia menetapkan kriteria dan syarat yang ketat bagi para tim yang akan ikut berkompetisi. Selain wajib memiliki kemampuan Bahasa Arab yang mumpuni, tim peserta setidaknya telah berhasil menjuarai even Debat Bahasa Arab yang digelar di level nasional maupun regional.

4th IUADC 2017 yang diselenggarakan oleh Qatar Debate merupakan even dwi tahunan yang selalu bertambah pesertanya dari waktu ke waktu. Sementara Indonesia baru kali pertama mengikuti kompetisi tersebut yang diawali dengan partisipasi dari UII.

Seperti disampaikan oleh Samsul Zakaria, S.Sy., selaku pelatih (trainer/mudarrib) debat Arab UII belum lama ini kepada Humas UII. Menurutnya, partisipasi UII dalam even internasional tersebut adalah hal yang telah dipersiapkan sejak lama. Oleh karenanya, ketika tim debat Bahasa Arab UII mendapat undangan resmi dari panitia penyelenggara ia pun sangat bersyukur.

“Sejak awal kita berupaya membangun reputasi dengan rajin mengikuti berbagai kompetisi debat Bahasa Arab mulai dari tingkat nasional hingga ASEAN. Alhamdulillah tim UII hampir tidak pernah absen memborong gelar juara I sampai III di berbagai even tersebut”, ujarnya. Hal ini sering membuat heran peserta lain karena UII sendiri tidak memiliki Prodi Sastra Arab atau Pendidikan Bahasa Arab.

Dalan even tersebut, Qatar Debate (cq. Qatar Foundation) membiayai seluruh kebutuhan peserta dan pelatih mulai visa, tiket pulang pergi, dan akomodasi selama di Qatar. Dalam lomba yang akan digelar 07-12 April 2017 mendatang, tim UII akan bertanding dengan sekitar 90 tim dari seluruh dunia.

Para peserta tidak hanya berasal dari etnis Arab namun pelajar berbagai bangsa yang datang dari Eropa, Amerika Utara, Afrika, dan Asia Tengah. “Mohon doa dan dukungannya dari Indonesia agar tim UII dapat mengharumkan nama bangsa”, ungkap Syamsul.

Ikuti Training for Trainer

Sebelum lomba, Qatar Debate mengadakan daurah (training) bagi para pelatih debat dari masing-masing universitas yang akan berlaga. Tak terkecuali bagi Samsul Zakaria, S.Sy., yang juga mengikuti daurah tersebut pada 16-20 Rabi’ul Akhir 1438 H/15-19 Januari 2017. Daurah bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang aturan lomba pada April mendatang.

“Kami dilatih dengan serius tentang model Qatar Debate, tips dan trik berdebat yang baik, dan beragam skill tentang debat,” tutur Samsul setelah mengikuti daurah yang melibatkan 50-an peserta dari 37 negara tersebut. Setelah mengikuti daurah tersebut, Samsul mendapat amanah untuk melatih secara intensif Tim Debat Arab UII yang akan berlaga di Doha, Qatar pada April nanti. (Samsul)

Keikhlasan dan Keteladanan Jadi Modal Kepemimpinan UII Ke Depan

Kepemimpinan sebagai modal penting sebuah universitas untuk maju perlu ditopang oleh nilai-nilai yang luhur. Sebab sejarah membuktikan kepemimpinan yang berjalan tanpa dikawal pedoman nilai, rawan berubah menjadi kepemimpinan yang despotis dan koruptif. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan ibarat amanah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan mengharap ridho Allah. Di samping itu, pemimpin juga dituntut dapat memberikan keteladanan sehingga menjadi contoh bagi rakyat yang dipimpinnya. Kedua nilai inilah yang selalu diharapkan hadir di setiap wajah kepemimpinan UII.

Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc di hadapan sivitas akademika Rektorat UII pada Selasa (7/2) di Gedung Prof. Dr. Sardjito UII. Didampingi oleh Dr. Abdul Jamil, SH, MH, Dr. Harsoyo bermaksud menyampaikan kata perpisahan kepada segenap dosen dan karyawan Rektorat UII yang selama dua tahun lebih dipimpinnya. Turut hadir dalam kesempatan ini, Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ilya Maharika, MA dan Wakil Rektor II UII, Dr. Nur Feriyanto, M.Si.

Disampaikan Dr. Harsoyo bahwa selama dua tahun memimpin UII banyak suka duka yang ia alami. Ia menceritakan sebelum menjadi dosen UII pada awalnya ia bercita-cita ingin menambang emas di Freeport, Papua. Namun, takdir seakan menuntunnya untuk mencurahkan diri di UII. Meski diakuinya ketika itu, UII belum memiliki apa-apa dan bekerja di UII harus dilandasi keikhlasan karena kompensasi finansial yang seadanya. Walaupun demikian ia menganggap itu semua sebagai bagian dari pengabdiannya kepada UII hingga kini.

Salah satu hal yang ingin diwujudkannya yaitu agar sivitas akademika tidak hanya mengejar kehidupan akademik saja namun juga memperkaya hati dengan siraman rohani.

Oleh karena itu, ia aktif mengajak sivitas akademika untuk sholat berjamaah ke masjid. “Sholat jamaah ke Masjid Ulil Albab itu jangan dipandang luar biasa. Yang luar biasa itu, mengaku warga UII tapi seperti biasa saja kalau mendengar adzan dikumandangkan”, ujarnya dengan nada canda.

Senada dengan Dr. Harsoyo, Dr. Abdul Jamil menyampaikan ungkapan terimakasih kepada segenap sivitas akademika atas dukungan moril dan spiritual ketika mereka memimpin UII. Ia berpesan agar segenap sivitas akademika senantiasa menjaga nama baik UII. Sebab kampus ini dibangun dengan susah payah oleh para pendiri bangsa. Mereka mencurahkan segenap harta dan tenaga untuk memajukan pendidikan Islam.

“Pada hakekatnya pimpinan kampus itu seperti pelayan bagi sivitas akademika. Oleh karenanya, pemimpin harus siap melayani manakala dibutuhkan setiap saat. Inilah yang perlu ditanamkan kepada siapapun yang kelak memimpin UII”, pungkasnya.

Selanjutnya, satu per satu hadirin diberi kesempatan menyampaikan kesan pesan dan apresiasinya kepada Dr. Harsoyo dan Dr. Abdul Jamil. Acara ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dan buku testimoni yang ditulis oleh para karyawan Rektorat.

Pelajari Pengembangan Yayasan, Universiti Islam Malaysia Kunjungi UII

Di era globalisasi seperti saat ini, peningkatan kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri menjadi kebutuhan setiap institusi. Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai perguruan tinggi nasional tertua di Indonesia memandang penting peningkatan kerjasama dengan berbagai pihak baik dari alam negeri maupun luar negeri. Hal tersebut di ungkapkan oleh Plt. Rektor UII Dr.-Ing. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI., saat menerima kunjungan delegasi dari Universiti Islam Malaysia (UIM) pada rabu (8/1) di Ruang Sidang VIP Lantai 3 Gedung H. GBPH Prabuningrat.

Delegasi UIM dipimpin langsung oleh Prof. Dato’ Dr. Abdul Monir Yaacob selaku Naib Presiden UIM, kemudian didampingi oleh Timb. Ketua Pustakawan Kanan, Pengarah Pembangunan, Timbalan Pendaftar, serta beberapa  pengurus dan pengarah dari UIM. Delegasi dari UIM diterima langsung oleh Plt. Rektor UII Dr. Ing. Ilya Fajar Maharika, MA., IAI., Anggota Yayasan Badan Wakaf Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., beberapa Direktur Direktorat, Kepala Badan, serta pejabat struktural lainnya di Ruang Sidang VIP Lt.III Gedung Rektorat UII.

Dalam sambutannya, Ilya Fadjar menjelaskan bahwa kunjungan semacam ini dapat meningkatkan realisasi kerjasama ke depan, misalnya dalam bidang kolaborasi mahasiswa, staf, dan dosen pada program-program penelitian dan pengembangan universitas. Sementara itu, Dato’ Abdul Munir mengungkapkan bahwa kunjungan kali ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan dan pengelolaan Badan Wakaf yang ada di UII.

“Kami mengetahui UII masuk dalam jajaran universitas terbaik di Indonesia, padahal UII adalah universitas swasta, pastinya diperlukan pengelolaan yang sustainable pada tataran yayasan dan universitas, untuk itu kami ingin mempelajarinya disini,” Ujar Dato’ Abdul Munir.

Harsoyo selaku Anggota Yayasan Badan Wakaf UII menjelaskan, bahwa antara universitas dan yayasan ada kordinasi yang cukup baik, misalnya Badan Wakaf mengelola infrastruktur, termasuk didalamnya pembanguan gedung, sedangkan pengelolaan bidang akademik sepenuhnya berada dalam tanggung jawab universitas.

Selain itu, delegasi dari UIM juga menanyakan terkait dengan beberapa beassiswa yang diberikan yayasan, asal pembiayaan yang diterima yayasan, sumber dana yang diterima dari pemerintah Indonesia, pengelolaan perpustakaan, serta kerjasama maupun kontribusi alumni terhadap UII.

Acara kunjungan berlangsung kurang lebih selama 2 (dua) jam, setelah serangkaian acara selesai kemudian di lanjutkan dengan sesi pertukaran cinderamata dan foto bersama.

UII Bersama UGM Selenggarakan 3rd IIFAS Conference

Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia (UII) dan Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Internasional Indonesian Forum on Asian Studies (IIFAS) committee menyelenggarakan konferensi internasional 3rd IIFAS Conference yang merupakan forum ilmiah tahunan lintas disiplin ilmu sosial yang membahas perkembangan isu sosial baik lokal maupun internasional, pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 8 dan 9 Februari 2017 di Yogyakarta.

Disampaikan Ketua Program Studi Hubungan Internasional UII, Irawan Jati, S.IP., M.Hum., MSS. pada jumpa pers di Yogyakarta, Selasa (7/2), 3rd IIFAS Conference tahun ini mengusung tema Borderless Communities and Nations with Borders: Challenges of Globalization. Tema ini menurutnya diambil sebagai respons akademik untuk menelaah tantangan globalisasi yang membawa banyak implikasi dalam berbagai bidang.

“Penyelenggaraan pada hari pertama, 8 Februari 2017 bertempat di Auditorium Sukadji Ranuwiharjo, Gedung Magister Manajemen UGM. Sementara pada hari kedua, 9 Februari 2017, bertempat di gedung Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, UII,” paparnya.

Irawan Jati menuturkan, konferensi internasional ini berkomitmen menyediakan forum sharing knowledge yang terbuka dan kritis dalam memaknai fenomena globalisasi yang telah menyentuh seluruh aspek kehidupan modern. Oleh karena itu konferensi ini mengundang beragam perspektif dari beragam disiplin, organisasi, akademisi nasional dan internasional, organisasi pemerintah dan NGO, mahasiswa, professional, korporasi, dan public secara luas untuk berkontribusi dalam mewarnai wacana diskusi.

Lebih lanjut dijelaskan Irawan Jati, penyelenggaraan konferensi akan dihadiri oleh 383 peserta, dalam dan luar negeri. 35 peserta tercatat berasal dari mancanegara (Filipina, Jepang, India, Amerika Serikat, Australia, Taiwan, Belanda, Malaysia, Inggris, dan Myanmar). Makalah yang akan dipresentasikan sebanyak 295 judul yang ditulis oleh 472 peneliti.

Sebagaimana dijelaskan Irawan Jati, penyelenggaraan konferensi akan dibagi dalam dua sesi utama, yaitu sesi seminar di hari pertama; dan sesi presentasi makalah (paper), pada hari kedua. Konferensi akan dibuka oleh Pimpinan UGM dan dibuka secara resmi oleh Direktur jenderal kelembagaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Totok Prasetyo, B.Eng. M.T.

“Sesi seminar pada hari pertama akan menghadirkan pembicara Prof. Francis Daehoon Lee (research professor peace studies, Sungkonghoe University), Dr. Lyn Parker (Profesor di Asian Studies dan Associate Dean of Arts Post Graduate Studies pada University of Western Australia), dan Prof. Sigit Riyanto (Fakultas Hukum, UGM),” jelasnya

Selanjutnya pada hari kedua menurut Irawan Jati, peserta akan berdiskusi dalam sesi presentasi makalah yang akan diselenggarakan secara paralel dalam 5 sesi sejak pagi hingga sore hari bertempat di kampus UII. Rangkaian acara seminar akan ditutup oleh pimpinan UII dalam acara resepsi penutupan konferensi pada sore hari tanggal 9 Februari 2017.

UII Berangkatkan Mahasiswa Dalam Ajang Harvard National Model of United Nations

Kiprah positif mahasiswa UII dalam even akademik internasional kembali berlanjut di awal tahun 2017. Setelah sebelumnya mengirimkan beberapa mahasiswa untuk berparisipasi dalam konferensi ilmiah di Jepang, kini UII memberangkatkan mahasiswanya untuk mengikuti ajang Harvard National Model of United Nations (MUN) 2017. Harvard MUN 2017 sendiri merupakan ajang bergengsi simulasi sidang PBB yang diikuti oleh ribuan mahasiswa dari berbagai universitas ternama dunia. Pada ajang itu, mahasiswa diminta berperan layaknya seorang diplomat PBB yang mewakili kepentingan negara tertentu. Harvard MUN 2017 akan berlangsung dari 16-19 Februari 2017 di kota Boston, Amerika Serikat.

Disampaikan oleh Nazhifah Junia selaku Ketua MUN Association UII bahwa keikutsertaan mahasiswa UII dalam ajang Harvard MUN 2017 adalah prestasi tersendiri yang baru dapat terealisasi di awal tahun 2017. Pasalnya Harvard MUN 2017 dinilai sebagai ajang simulasi sidang PBB tertua, terbesar, dan paling bergengsi di antara ajang simulasi sidang PBB lainnya. Terlebih posisi Harvard sebagai salah satu kiblat pendidikan tinggi di AS dan dunia menjadikan even itu semakin kompetitif bagi para mahasiswa yang akan mengikutinya.

“Even ini sudah berlangsung sejak tahun 1955 dan terus diadakan setiap tahun di mana mahasiswa terbaik di bidang diplomasi dan hubungan internasional dari berbagai universitas ternama dunia berkumpul untuk saling mengasah skill dan kepiawaian berdiplomasi”, ujar mahasiswi Fakultas Kedokteran angkatan 2014 itu di kampus terpadu UII, pada Senin (6/2).

Pada kesempatan ini, empat mahasiswa terbaik UII yang berpartisipasi, antara lain Arif Najwa Hilmy (Teknik Industri 2012), Naela Nabila (Pendidikan Dokter 2014), Cynthia Wara I (Akuntansi 2013), dan Dzikra Ramiza A.S. (Hubungan Internasional 2014).

Ditambahkan Nazhifah Junia, keempat delegasi telah menjalani berbagai latihan dan persiapan sebelum diterjunkan mengikuti even tersebut. Salah satu bentuk persiapan yang dijalani adalah dengan mengasah kemampuan public speaking dan penguasaan isu-isu diplomasi internasional yang rutin menjadi pembahasan di dalam sidang-sidang PBB. Keempat mahasiswa UII dituntut memiliki kesiapan prima sebelum diterjunkan di komisi-komisi sidang PBB yang mencakup berbagai isu, seperti kesehatan, lingkungan hidup, ekonomi, sosial politik, dan HAM.

Pertahankan Tradisi Meraih Prestasi

Sementara itu, Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ilya Maharika, MA pada saat melepas keempat mahasiswa UII di Gedung Rektorat UII, Senin (6/2) berpesan agar mereka dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaiknya-baiknya. Ia turut memberi motivasi bahwa mahasiswa UII memiliki tradisi untuk berusaha mengukir prestasi dalam berbagai ajang yang mereka ikuti baik di tingkat nasional maupun internasional. Seperti pada ajang MUN sebelumnya yang juga diikuti mahasiswa UII di kota Hamburg, Jerman pada Desember 2016. Mahasiswa UII meraih tiga penghargaan sekaligus pada even itu.

Meski demikian ia berharap agar mahasiswa tidak merasa terbebani dengan hal itu. “Yang utama adalah mendulang pengalaman sebanyak-banyaknya sebagai bekal mengasah potensi diri. Berusaha sebaik mungkin, biarlah Allah yang membalas setiap jerih payah adik-adik sekalian”, pungkasnya.