Keganasan Kanker Payudara Bisa Dideteksi Dengan Software Karya Mahasiswa UII Ini

Mahasiswa UII nampaknya tidak mengenal kata lelah untuk berinovasi. Berbagai karya unik dan inovatif terus lahir dari pemikiran para mahasiswa kampus Islam ini. Sebagai contoh karya yang dihasilkan oleh dua mahasiswa Program Studi Informatika Medis, Program Magister Teknik Informatika Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), Dhina Puspasari, M.Kom dan Dadang Heksa Putra, M.Kom.

Berangkat dari ketekunan keduanya mendalami software di dunia medis, mereka berhasil mengembangkan software deteksi keganasan kanker payudara. Dua software yang saling melengkapi ini bisa membantu kerja dokter patologi anatomi dalam mengambil tindakan pengobatan kanker pasien. Tindakan deteksi kanker sedini mungkin sangat penting karena kanker yang masih berada pada stadium awal akan lebih mudah penanganan medisnya.

“Keakuratan software ini sudah dikonsultasikan dengan dokter patologi anatomi dan dinyatakan 75 persen keakuratannya. Selanjutnya, masih diperlukan investigasi korelasi antara data deteksi oleh sistem yang diusulkan dengan pemeriksaan CISH (Chromogenetik Insitu Hybridization),” kata Izzati Muhimmah PhD, dosen pembimbing kedua mahasiswa tersebut belum lama ini di kampus terpadu UII.

Tahap awal pemeriksaan kanker payudara melalui tindakan biopsi (pembedahan dengan mengambil jaringan pada payudara). Setelah itu dilakukan pengamatan dengan mikroskop oleh dokter patologi anatomi untuk dianalisis.

Umumnya mikrokop sudah dilengkapi dengan kamera dan monitor bertujuan untuk melihat citra dengan ukuran yang lebih besar. Salah satu cara umum untuk menganalisis sampel jaringan adalah dengan pemberian warna pada sampel jaringan dengan larutan hematoxylin dan eosin. Setelah itu dilakukan pengambilan gambar (citra).

Setelah dilakukan pewarnaan pada sampel jaringan maka akan muncul masalah pada hasil citra yaitu, variasi warna tidak konsisten disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, perbedaan penggunaan mikroskop, perbedaan kamera, pencahayaan dan proses pemberian warna sampel jaringan. “Untuk itu dibutuhkan standarisasi dalam analisis citra sampel jaringan payudara yang berdampak paa kualitas diagnosis,” kata Izzati.

Hal ini yang melatarbelakangi Dhina dan Dadang melakukan pengembangan software deteksi keganasan kanker payudara pada citra digital HER2. Dhina memfokuskan pada software perbaikan citra, sedang Dadang menitikberatkan pada pengembangan software estimasi keganasan kanker payudara.

Dijelaskan Dhina, aplikasi swapping warna citra histopatologi kanker payudara ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas citra sehingga dokter patologi anatomi lebih mudah untuk menganalisis citra atau gambar. Aplikasi ini membutuhkan citra source dan citra target. Citra source adalah citra yang akan dilakukan perbaikan. Sedang citra target adalah citra referensi.

Gunakan 42 Citra Gambar Sel Kanker

Dhina menggunakan sebanyak 42 citra yang diperoleh dari pengambilan gambar menggunakan sigma HD microspace camera HDMI/USB dan optilab camera advance adapter. “Berdasarkan hasil analisis dan pengujian, rekomendasi pakar dari 42 data citra yang diperbaiki 38 citra menunjukkan hasil yang optimum sebesar 90,48 persen,” kata Dhina.

Sedang Dadang mengatakan penentuan tingkat keganasan kanker payudara atau status human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) sangat penting untuk mengoptimalkan diagnosis dan terapi yang tepat bagi pasien. HER2 merupakan pra syarat untuk pengobatan pasien kaker payudara.

Immunohistochemistry (IHC) merupakan metode yang digunakan untuk melihat reaksi dalam jaringan kanker. Faktor IHC dipengaruhi oleh pewarnaan hasil awal di ruang operasi baedah dan berakhir pada interpretasi oleh ahli patologi. Hasil ini kemudian mengarah pada keputusan pengobatan oleh dokter onkologi.

Software ini dibuat untuk mendeteksi daerah membran (berwarna coklat) pada citra HER2. “Pada tahapan pengujian citra terhadap citra hasil, validasi pakar, dan hasil validasi pakar. Rata-rata dari 40 data citra membran HER2 skor 2+ didapatkan sebesar 75,13 persen dari areal berhasil dikenali oleh sistem,” kata Dadang.

Diolah dari Jogpaper.net

Program Arsitektur dan Profesi Arsitek UII Peroleh Pengakuan Internasional

Program Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil memperoleh pengakuan internasional setelah dinyatakan terakreditasi oleh Korea Architecture Accrediting Board (KAAB), pada 31 Januari 2017. Raihan ini menempatkannya sebagai Program Arsitektur satu-satunya yang terakreditasi internasional di lingkungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan yang kedua secara nasional. Akreditasi yang diperoleh akan berlaku selama tiga tahun, yakni sampai Januari 2020 mendatang.

Disampaikan Ketua Program Arsitektur UII, Noor Cholis Idham, P.hD., Jum’at (3/2), capaian ini menjadi suatu hal yang membanggakan bagi sivitas akademika UII. Karena memang tidak banyak Program Arsitektur di Indonesia yang memperolehnya, dan bahkan di dunia sekalipun. ”Sebelumnya, satu tahun yang lalu Program Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) memperolehnya dan tahun ini UII berhasil mendapatkannya,” ungkapnya.

Noor Cholis Idham menuturkan, Program Arsitektur UII memilih KAAB karena lembaga ini merupakan lembaga akreditasi internasional yang tergabung dalam Canberra Accord. Dimana Canberra Accord sendiri merupakan persetujuan pendidikan arsitektur dunia yang bersepakat menghimpun beberapa lembaga akreditasi dunia termasuk KAAB. KAAB adalah anggota penandatangan Canbera Accord yang juga merupakan organisasi yang diakui oleh Dewan Validasi Pendidikan Arsitektur UNESCO-UIA (International Union of Architects).

“Selain KAAB, yang tergabung dalam Canberra Accord antara lain lembaga akreditasi pendidikan arsitektur dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Cina, Meksiko, yang kesemuanya di bawah naungan UNESCO-UIA,” jelasnya.

Dengan demikian, seperti diungkapkan Noor Cholis Idham, lulusan Program Arsitektur UII diakui secara internasional, yakni dengan program 4+1 tahun. Dijelaskan, empat tahun adalah pendidikan pada jenjang sarjana (S1), dan satu tahun berikutnya adalah program profesi. “Dengan pengakuan ini, para lulusan sudah setaraf dengan institusi negara-negara lain yang lebih maju dan diakui secara internasional di seluruh dunia di bawah Canberra Accord,” paparnya.

Capaian ini menurut Noor Cholis Idham, tentunya berkaitan dengan proses yang telah dilakukan semenjak tahun 2011 yang lalu. Pada tahun itu, program yang saat ini ia pimpin mencari ke mana akan mendapatkan akreditasi internasonal, dan kemudian diputuskan melalui KAAB. Selanjutnya di tahun 2012 Program Arsitektur UII mendirikan Pendidikan Profesi Arsitektur (PPAr) tahun ke lima sebagai prasarat utama pengajuan akreditasi internasional.

”Kurikulum kita sudah sesuai standar internasional yang dievaluasi melalui Student Performance Criteria (SPC) yang ditentukan oleh KAAB, yang tentu saja menginduk ke UIA-UNESCO sebagai institusi arsitektur di dunia di bawah PBB. Jadi baik kurikulum ataupun sarana-prasarana kita mengikuti standar kualitas internasional, termasuk studio arsitektur buka 24 jam yang dilengkapi dengan berbagai laboratorium,” terangnya.

Sementara merespon tantangan ke depan, Noor Cholis Idham menuturkan perlunya meningkatkan kualitas, seperti kualitas pendidikan termasuk pengajarnya juga dalam hal mekanisme kurikulum serta sarana dan prasarana. Selain itu, Program Arsitektur UII juga terus menggalang kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri. “Selain link terjaga dengan baik, Program Arsitektur UII juga mempunyai benchmark,” jelasnya.

Selain itu, Noor Cholis Idham juga menggarisbawahi pasca diberlakukannya pasar bebas yang telah membuka peluang arsitek dari negara lain masuk ke Indonesia. Dengan pengakuan internasional yang diperoleh ini, menurutnya Program Arsitektur UII jutru ingin membentengi hal tersebut dengan para lulusannya yang berkualitas internasional.

Disebutkan Noor Cholis Idham, hal lain yang menjadi keunggulan dan menjadi pertimbangan penilaian KAAB adalah kerjasama Program Arsitektur UII dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). “Jadi lulusan kita juga memperoleh sertifikasi dari IAI, dan hal ini belum dimiliki oleh universitas yang lain,” tandasnya.

Kerjasama dengan OJK, P3EI Selenggarakan Seminar Investasi Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini merilis daftar investasi keuangan yang tergolong mencurikgakan. Dalam rilis tersebut, OJK menyatakan bahwa per Janurari 2017, sebanyak 80 perusahaan investasi dinyatakan tidak memiliki izin sesuai ketentuan yag ada, atau dengan kata lain dianggap sebagai investasi bodong. Akibatnya, tidak sedikit investor yang dirugikan dari hadirnya investasi bodong tersebut.

Untuk memberikan pemahaman lebih mengenai investasi yang sehat kepada sivitas akademika, hari ini (03/02) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) melalui Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) menyelenggarakan Seminar Investasi Syariah dengan tema ‘Berinvestasi dengan Cerdas, Pruden, dan Berwawasan Islam’. Seminar yang digelar di Aula Utara Gedung Prof. Ace Partadiredja FE UII tersebut menghadirkan pembicara Fauzy Nugroho selaku Kepala Kantor OJK DIY dan Dr. Zaenal Arifin, M.Si., CFP®QWP sebagai Dosen FE UII.

Dalam penyampaian materinya, Fauzy menyampaikan bahwa jika hendak berinvestasi, pastikan lembaganya punya ijin atau tidak, dan lihat produk yang ditawarkan apakah pasti atau tidak. “Kalau ada perusahaan investasi yang menawarkan keuntungan 5 persen atau lebih, silahkan dipertimbangkan lagi, hal itu tidak masuk akal. Kalau masih ragu, hubungi kami di OJK, kami memiliki prinsip ‘merapi’ yaitu melayani ora pilih-pilih,” ungkapnya.

Lebih jauh Fauzi menjelaskan, tingkat kesadaran literasi keuangan masyarakat terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 ini, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 29,66 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yang hanya sebesar 21,84 persen. “Dalam berinvestasi, masyarakat bisa mempertimbangkan investasi berbasis syariah, konsep yang dibangun pada investasi yang berbasis syariah itu sudah sangat bagus, yaitu win-win solution, bukan zero sum game,” pungkasnya.

Sementara itu Zaenal ketika memaparkan materi di sesi kedua menjelaskan bahwa perencanaan keuangan tidak hanya diperuntukkan bagi orang kaya, tidak juga bertujuan agar orang menjadi kaya. Namun perencanaan keuangan itu bertujuan agar keuangan bisa sehat, keuangan yang sehat yaitu suatu kondisi di mana seseorang beserta keluarganya tidak pernah dibuat pusing dengan masalah keuangan. “Keuangan yang sehat bisa dilihat dari ketersediaan uang tunai serta kemampuan dan kemauan menabung untuk masa depan,” paparnya.

Metode Performance Prism Ukur Kinerja Perusahaan Dari Sisi Stakeholder

Semakin ketatnya persaingan bisnis menuntut perusahaan untuk terus meningkatkan kinerjanya secara kontinyu. Pengukuran kinerja perusahaan pun menjadi hal yang penting. Salah satu pengukuran kinerja perusahaan yang dinilai berbeda dari yang lain adalah pengukuran kinerja menggunakan metode Performance Prism. Metode itu dinilai tepat dalam mengukur dan mengevaluasi kinerja perusahaan. Sebab metode ini mengukur aspek berdasarkan sisi stakeholder seperti owner, supplier, employee, customer dan government sehingga para pelanggan lebih mempercayainya. Imbasnya tentu saja dapat meningkatkan daya saing perusahaan di kancah pasar global.

Sebagaimana disampaikan Irma Andrianti, mahasiswa Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta di Kampus FTI UII. Kesimpulan tersebut diperolehnya setelah melakukan penelitian di PT Beasco Jaya Mandiri Balikpapan, Kalimantan Timur. Selama meneliti, Irma Andrianti selalu berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya, Dr. Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP.

Dijelaskannya, model Performance Prism mempunyai lima perspektif, yaitu Stakeholder Satisfaction, Strategy, Process, Capabilities dan Stakeholder Contribution. Sebagai identifikasi awal dipetakan matriks SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) untuk menyusun strategi yang sesuai.

Selanjutnya, ia menyampaikan, dilakukan penentuan indikator kinerja, perancangan range score dengan menetapkan target untuk tiap Key Performance Indicator (KPI), dan pengukuran kinerja. Pada tahap result adalah perancangan prformance dashboard untuk menampilkan laporan KPI perusahaan dalam format presentasi visual agar lebih mudah dipahami.

Metode Performance Prism digunakannya untuk memperbaiki metode pengukuran kinerja pada PT. Beasco Jaya Mandiri Balikpapan, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang supplier dan general kontraktor. “Selama ini sistem pengukuran kinerja di PT. Beasco Jaya Mandiri Balikpapan belum merepresentasikan kinerja organisasi secara komprehensif dan integratif karena hanya menggunakan pengukuran kinerja berdasarkan individu,” katanya.

Hasil penelitiannya, metode Performance Prism ini tidak hanya dapat dilakukan pada tingkat korporasi saja, Tetapi bisa diterapkan pada setiap bagian kerja yang ada di perusahaan sampai dengan level terkecil.

“Sistem pengukuran kinerja dengan mengunakan metode Performance Prism ini harus ditinjau secara periodik. Hal ini dimaksudkan agar variabel kinerja dan target KPI yang ada dapat disesuaikan dengan perkembangan terbaru, baik menyangkut perubahan lingkungan, persaingan usaha, regulasi pemerintah, tuntutan masyarakat, perkembangan kebutuhan pelanggan, perkembangan teknologi terbaru maupun perkembangan standar pencapaian kinerja dengan metode terbaru,” jelasnya.

Seiring tuntutan perkembangan zaman, maka persaingan di dunia bisnis menjadi semakin ketat. Pengukuran kinerja diperlukan agar perusahaan dapat melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem yang telah ada dan berjalan saat ini, sehingga dapat diketahui apakah sistem telah berjalan baik dan sesuai. Setiap perusahaan perlu memperhatikan aspek stakeholder dalam menilai kinerja perusahaan karena para stakeholder ikut mempengaruhi keadaan perusahaan.

Diolah dari jogpaper.net

Suci dan Faisal, Mahasiswa UII yang mendapatkan Beasiswa Pertukaran Pelajar ke Jepang

Dua Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), Suci Varista Sari (2013) dan Faisal Arsyad (2013), mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Short Stay Program di Hokaido University. Jepang. Program tersebut merupakan program beasiswa pertukaran pelajar hasil kerjasama antara FTSP UII dan Hokaido University sejak tahun 2009, dan untuk tahun ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan dari 1 Februari sampai 28 Maret 2017 mendatang. Beasiswa yang diterima mencakup biaya perjalanan dan akomodasi selama kegiatan berlangsung.

Selama di Jepang, Suci dan Faisal akan melakukan penelitian di Laboratrium Prof. Shunitz Tanaka mengenai teknologi pengembangan absorpsi untuk pengolahan air dan limbah. Seperti diketahui bahwa fasilitas laboratorium disana tergolong lebih maju dan lebih lengkap daripada di Indonesia, untuk itu rencananya hasil penelitian nanti akan difinalisasi dalam bentuk tugas akhir skripsi.

Disampaikan oleh Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., dalam acara pelepasan mahasiswa Senin lalu di Ruang Sidang Rektor Lantai 3 Gedung GBPH Prabuningrat, bahwa saat ini di Jepang sedang musim dingin untuk itu perlu dipersiapkan perlengkapan untuk mengantisipasi hal itu.

“Yang tidak kalah penting adalah untuk selalu menjaga nama baik UII dan nama baik Indonesia secara umum dimanapun kalian berada, pimpinan akan selalu mendukung kegiatan yang bagus seperti ini, terutama dalam rangka meningkatkan mobilitas internasional baik dari dosen maupun mahsiswa,” ungkapnya.

Sementara itu, Eko Siswoyo, Ph.D., sebagai kordinator program di UII sekaligus dosen pembimbing Suci dan Faisal menambahkan bahwa program ini mendapatkan apresiasi yang cukup positif dari Hokaido University. “Sudah sejak 2009 lalu program ini masih terus berlangsung, dari yang hanya mendapatkan jatah satu orang bertambah saat ini menjadi dua orang, maka kedepan kami merencanakan agar bisa memberangkatkan mahasiswa antara 5-10 orang”, paparnya.

Selama ini hasilnya juga positif, banyak alumni dari program ini yang kemudian setelah lulus dari UII berkarir di perusahaan internasional, dan ada juga beberapa melanjutkan studi melalui beasiswa ke luar negeri, termasuk di Hokaido University.

Daun Kangkung Berpotensi Dikembangkan Jadi Obat Herbal Anti Diabetes

Kangkung, tanaman yang biasa tumbuh di kawasan berair sudah lama dikenal sebagai sayuran dan bahan masakan. Sifatnya yang mudah tumbuh di berbagai tempat menjadikan tanaman ini mudah diperoleh dan tersedia sepanjang tahun. Namun siapa sangka jika daun tanaman tersebut ternyata tidak hanya nikmat dikonsumsi namun juga memiliki khasiat untuk mengobati penyakit diabetes melitus. Ekstrak daun kangkung dinilai memiliki kandungan yang dapat membantu penurunan kadar gula darah dan memperbaiki fungsi pankreas. Kandungan anti oksidan yang bermanfaat bagi tubuh juga ditemukan dalam ekstrak daun kangkung tersebut. Potensi daun kangkung sebagai obat herbal ini dapat menjadi terobosan dalam terapi pengobatan penyakit diabetes melitus.

Sebagaimana diungkapkan oleh peneliti UII, Dr. Farida Hayati, M.Si., Apt terkait dengan penelitiannya yang mengungkap khasiat daun kangkung sebagai obat herbal. Menurut Dr. Farida Hayati, penelitiannya berawal dari data empiris yang diyakini masyarakat bahwa kangkung memiliki khasiat anti diabetes. Berangkat dari itu, ia kemudian menindaklanjutinya dengan mengadakan penelitian intensif terhadap kandungan daun kangkung. Ia juga menggandeng peneliti UII lainnya, yakni Pinus Jumaryatno, Ph.D, Arde Toga N, dan Ari Wibowo.

“Pengembangan daun kangkung sebagai alternatif pengobatan diabetes melitus telah kami teliti secara komprehensif meliputi aspek standarisasi ekstrak, efek toksisitas, efek farmakologi, dan studi fitokimianya”, terang Dr. Farida Hayati yang selama tiga tahun terakhir aktif meneliti kandungan kangkung.

Menurutnya, salah satu tantangan untuk menghasilkan obat herbal daun kangkung adalah mengekstrak kandungannya menjadi dosis yang kecil namun berkonsentrasi tinggi. “Kalau tidak seperti itu, pembuatan obat jadi kurang efektif karena membutuhkan bahan mentah yang sangat banyak. Sementara ekstrak yang dihasilkan harus optimal”, tambahnya.

Selanjutnya, Dr. Farida Hayati juga sempat memastikan apakah pemberian ekstrak daun kangkung memiliki dampat negatif bagi kesehatan. Tahapan ini cukup penting dalam fase pengembangan obat herbal karena untuk memastikan aspek keamanannya ketika dikonsumsi manusia. “Hasil uji kami menunjukkan pemberian ekstrak daun kangkung terstandar termasuk kategori praktis tidak toksik dan pemberian secara berulang tidak berpengaruh pada kesehatan hewan uji coba”, ungkapnya.

Berdasarkan hasil tersebut, ia cukup optimis jika pembuatan obat herbal dari ekstrak daun kangkung ke depan akan semakin nyata terwujud. Hasil ini tentunya cukup menggembirakan bagi pengembangan terapi pengobatan alternatif penyakit diabetes melitus yang kini menjadi salah satu penyakit dengan jumlah penderita yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Gejala Materialisme Semakin Kikis Nilai Sosial Masyarakat

Munculnya fenomena masyarakat yang begitu mudah mempercayai kemampuan seseorang yang bisa mendatangkan kekayaan secara instan meski irasional dinilai merupakan gejala semakin kuatnya nilai materialisme. Masyarakat yang terjangkit materialisme cenderung memiliki sikap hidup yang menghargai materi secara berlebihan. Materi menjadi tolok ukur utama dalam menilai kesuksesan seseorang. Sayangnya, sikap yang mengukur segala sesuatunya dengan materi ini erat kaitannya dengan merosotnya nilai-nilai sosial yang menjadi ciri khas bangsa, seperti gotong royong, sukarela, dan tanpa pamrih.

Sebagaimana disampaikan Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc ketika memberi sambutan dalam acara Sumpah Profesi Psikolog ke-32 yang digelar oleh Magister Profesi Psikologi UII di Ruang Auditorium FPSB UII, Sabtu (22/10). Acara tersebut diikuti oleh empat orang lulusan Magister Profesi Psikolog.

“Kondisi ini tidak dipungkiri semakin nyata adanya di tengah masyarakat kita. Di mana tidak hanya menjangkiti golongan masyarakat di akar rumput, namun juga kaum menengah atas, dan bahkan sebagian kaum intelektual”, ungkap Rektor.

Rektor menilai sebagai kalangan intelektual, lebih-lebih yang membawa nilai Islam, para psikolog juga memiliki kewajiban untuk kembali menyehatkan kondisi psikologis masyarakat. Keunikan psikolog UII yang tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu saintifik namun juga mengamalkan akhlak-akhlak Islami dalam berprofesi bisa menjadi celah untuk terlibat dalam hal itu.

Di sisi lain, Ketua HIMPSI Wilayah DIY, Drs. Helly P. Soetjipto, MA mengatakan salah satu tantangan menjadi psikolog adalah selama ini psikolog dianggap sebagai sosok yang dapat memulihkan kesehatan jiwa individu. “Namun apakah psikolog bisa menterapi dirinya sendiri manakala dia memiliki masalah kejiwaan?. Ini belum dapat dipastikan”, ujarnya.

Menanggapi fenomena di masyarakat yang mudah tergiur hal-hal berbau irasional, Helly P. Soetjipto berpendapat sebenarnya masyarakat cukup mempraktekkan tiga hal untuk menghindarinya. “Selalu utamakan berperilaku jujur, ikhlas, dan saling membantu sesama manusia. Insyaallah hal ini dapat menjaga kesehatan mental kita”, terangnya.

4 Mahasiswa UII Presentasikan Hasil Penelitian dalam Acara CISAK Korea

Conference Of Indonesian Students Association In South Korea (CISAK) merupakan acara tahunan yang diadakan oleh mahasiswa Indonesia yang berada di Korea Selatan dibawah naungan organisasi Persatuan Pelajar Indoneisa (PPI).

Pada tahun ini, acara ini diikuti lebih dari 100 pelajar dari Indonesia untuk memaparkan penelitian-penelitian mereka yang bersifat solutif untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tema yang diangkat pada acara ini adalah Encouraging Knowladge Collaboration for National Resilience Toward Asean Economic Community.

3 Tim dari Universitas Islam Indonesia (UII) terpilih menjadi peserta serta bertugas untuk memaparkan penelitian mereka pada acara tersebut yang berlangsung di kota Seoul. Tim tersebut berasal dari Fakultas Kedokteran (Faisal Ridho Sakti dan Galvin Giffari), Fakultas Matematika dan IPA (Rosnalia Widyan), dan Fakultas Ilmu Agama Islam (Rizaldi Saeful R). 2 Tim dari FK dan FIAI membawakan presentasi dalam bentuk poster, sedangkan perwakilan dari Fakultas MIPA membawakan penelitiannya dalam sesi oral.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini, 3-4 September 2016, tidak hanya diisi dengan berbagai presentasi dari putra-putri terbaik bangsa yang terpilih, melainkan juga banyak sesi yang mendiskusikan tentang progres kemajuan negeri yang dibawakan oleh beberapa pakar. Sesi yang paling menarik adalah sharing session tentang tips-tips mendapatkan beasiswa di Korea Selatan yang diisi langsung oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri ginseng tersebut.

UII ODIEX 2016 Suguhkan Beragam Karya Inovasi UII

Penyelenggaraan UII Open Day and Innovation Expo (UII ODIEX) 2016 berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Salah satunya pada perhelatan kali ini, terdapat pengklasifikasian karya inovasi berdasarkan tiga zona utama yakni Zona Kreatif, Zona Poster dan Zona Interaktif.

”Dengan cara ini diharapkan para pengunjung dapat dengan mudah menikmati suguhan karya inovasi yang ada di UII melalui beragam cara sesuai yang dikehendaki,” ungkap Galang Prihadi Mahardhika, S.Kom, M.Kom. selaku ketua panitia, pada Selasa (25/10), di Auditorium Kahar Mudzakkir UII.

Disampaikan Galang Prihadi, UII ODIEX merupakan pameran inovasi tahunan yang diselenggarakan untuk mengenalkan beragam karya inovasi yang diciptakan UII kepada masyarakat. Ia menjelaskan, kegiatan UII ODIEX telah memasuki penyelenggaraan yang ke tiga sejak pertama kali digelar pada tahun 2014 yang lalu. Kali ini kegiatan akan digelar selama 3 hari, yakni tanggal 25-27 Oktober 2016.

Lebih lanjut disampaikan Galang Prihadi, hal baru lainnya pada penyelenggaraan UII ODIEX 2016 adalah lorong cerita yang dibangun untuk mengemas informasi sejarah UII menjadi suatu bentuk perjalanan memorabilia. Ia menambahkan, dengan cara ini diharapkan para pengunjung dapat mengamati perkembangan UII sebagai pelopor universitas di Indonesia.

“Selain itu, momentum erupsi Merapi yang terjadi pada 6 tahun yang silam juga diangkat menjadi suatu topik pada lorong cerita ini,” jelasnya.

Galang Prihadi yang juga merupakan Kepala Divisi Pemasaran dan Admisi UII menuturkan, pada penyelenggaraan UII ODIEX 2016 juga menampilkan sesi panggung inspirasi yang dirancang untuk memberikan edukasi bagi para peserta. Seperti Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Luar Neger, Inkubasi Bisnis Mahasiswa dan Tax Amnesti, Regulasi, dan Implementasi.

Kegiatan UII ODIEX 2016 juga akan dimeriahkan oleh eksibitor unggulan yakni Museum Gempa Prof Sarwidi, Desa Binaan DPPM UII, UII Global Mobility, Labma & PKM Corner, Ikatan Keluarga Ibu-ibu UII, Periplus UII dan Lembaga Pelatihan Khusus.

Dukungan penyelenggaraan UII ODIEX 2016 disampaikan langsung oleh Wakil Rektor II UII, Dr. Drs. Nur Feriyanto, M.Si. yang secara resmi membuka acara tersebut. Menurutnya menghadapi era kompetisi regional dan global yang semakin ketat, salah satu kunci untuk bertahan dalam era tersebut adalah dengan terus menumbuhkan inovasi di berbagai bidang.

“Melalui penyelenggaraan UII ODIEX 2016 diharapakan para dosen dan mahasiswa UII dapat meningkatkan inovasi di bidangnya masing-masing,” tuturnya.

PSM “Miracle Voices” UII Raih Prestasi di Thailand

Raihan prestasi diukir oleh Tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM) “Miracle Voices” Universitas Islam Indonesia (UII) dengan membawa pulang dua Golden Diploma pada ajang 1st Lanna International Choir Competition (LICC) di Thailand. Pada kompetisi paduan suara ini Tim PSM “Miracle Voices” UII bersaing dengan peserta lainnya yang berasal dari berbagai negara.

“Tercatat 56 tim paduan suara turut serta dalam kompetisi ini, di antaranya dari Thailand, Cina, Filipina, Sri Lanka, Kroasia dan Malaysia. LICC sendiri digelar pada 19-23 Oktober oleh Interkultur Germany,” ungkap Direktur Direktorat Pembinaan Bakat Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM) UII, Beni Suranto, S.T., M.Soft.Eng., di Gedung Rektorat UII, Jl. Kaliurang Km.14,5, Kamis (27/10).

Disampaikan Beni Suranto, LICC merupakan kompetisi internasional pertama yang diikuti oleh PSM “Miracle Voices” UII. Pada kompetisi ini Miracle Voices mengikuti 2 kategori perlombaan yakni kategori Mixed Choir Level II dan Folklore.

“Miracle Voices UII berhasil membawa pulang Golden Diploma level III pada kategori Mixed Choir difficult level II dan menduduki peringkat ketiga setelah Malaysia dan Thailand. Sedangkan pada kategori Folklore Miracle Voices berhasil mendapatkan Gold Medal level I,” jelasnya.

Rasa syukur dan bangga atas capaian yang diraih dirasakan oleh seluruh  anggota tim PSM “Miracle Voices” UII. “Alhamdulillah, kami yang berangkat ke Thailand berhasil pulang dengan bangga membawa Golden Diploma dari 2 kategori yang kami ikuti,” ungkap Rahmad Hidayat selaku Ketua Tim.

Diutarakan Rahmad Hidayat, menurutnya memenangkan kompetisi LICC merupakan mimpi terbesar bagi tim PSM “Miracle Voices” UII, terlebih merupakan kompetisi internasional pertama yang diikuti bersama tim.

Dituturkan Rahmad Hidayat, kesertaan Tim PSM “Miracle Voices” UII dalam ajang ini terdiri dari 29 penyanyi, 3 official, 1 pianist, dan dipimpin oleh konduktor Irene Vista Budi Kusumastuti yang mana merupakan pelatih dari tim paduan suara UII.

“Dalam ajang LICC ini, tim Miracle Voices UII menampilkan enam aransemen yang terdiri dari lagu klasik, pop, hingga lagu daerah,” ungkap Rahmad Hidayat.